Seorang perempuan datang kepada Nabi SAW. Tangan kanannya lumpuh,”Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah. Suwuklah aku agar Allah menyembuhkan tanganku seperti sedia kala” katanya.
“Apa yang membuat tanganmu lumpuh ?” Tanya beliau.
Perempuan itu lalu bercerita. Suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah datang. Neraka Al-Jahim berkobar-kobar apinya. Surga didekatkan. Pada api tadi ada jurang-jurang. Di salah satu jurang kulihat Ibuku. Satu tangan menggenggam sekerat lemak dan tangan yang lain memegang sesobek kain kecil yang ia kibaskan untuk menghalau api yang akan menjilat tubuhnya.
“Oh Ibu, mengapa Ibu ada di jurang ini padahal Ibu adalah orang yang taat pada Allah dan orang yang membuat ridha suami ??” tanyaku.
Dia menjawab,”Anakku, Aku dulu kikir selagi di dunia dan ini adalah jurang untuk orang-orang yang kikir”
“Lalu lemak apa dan kain apa yang ada di tangan Ibu ?? dari mana Ibu dapatkan ??” Tanya ku.
“Ini adalah benda-benda yang aku shodaqohkan di dunia. Sepanjang umurku aku tidak pernah bershodaqoh kecuali sekerat lemak dan sesobek kain kecil ini. Aku berikan benda-benda ini pada orang miskin. Dengan keduanya aku melindungi diriku dengan api dan azab yang hendak menghampiri diriku.” Jawabnya.
“Ayah mana ?” tanyaku.
“Ayahmu orang dermawan. Dia berada di tempat orang-orang dermawan di surga,” ungkapnya.
Aku langsung pergi mendatangi surga. Kulihat ayahku berada di tepi telaga, Ya Rasulullah. Dia memberi minum orang-orang. Dia mengambil gelas dari tangan Ali, Ali mengambil dari tangan Utsman, Utsman dari tangan Umar, Umar mengambil dari tangan Abu Bakar, Abu Bakar mengambil dari tangan Baginda.
“Ayah,”panggilku. Sekarang Ibu yaitu istrimu yang taat kepada Allah dan engkau ridha padanya, sedang berada di satu jurang di neraka, dan ayah member minun pada orang-orang dari telaga Nabi SAW. Padahal Ibu sekarang dalam keadaan haus. Tolang berikanlah ia seteguk air.
Ayahku berkata,”Putriku, Ibumu berada di jurang tempat orang-orang bakhil, para pendosa dan pendurhaka”
Aku merebut gelas dari tangannya. Aku bergegas ke tempat Ibuku sambil membawa gelas itu guna memberi minum padanya. Ibu pun meminumnya. Ketika ia sedang minum, tiba-tiba terdengar suara,”Mudah-mudahan Allah melumpuhkan tanganmu. Engkau telah memberi minum seorang wanita pendosa yang bakhil dari telaga Rasulullah SAW”.
Seketika itu aku terbangun. Kudapati tanganku telah menjadi lumpuh” Perempuan itu mengakhiri ceritanya.
Nabi SAW bersabda,”Coba, kebakhilan Ibumu telah menyengsarakanmu di akhirat. Bagaimana ia sendiri di akhirat ?”
Selanjutnya, beliau meletakkan tongkat baliau di tangan perempuan itu sambil berdoa,”Ya Allahdengan mimpi yang telah ia ceritakan, mohon sembuhkan tangannya”
Kontan tangan si perempuan sembuh seperti sedia kala. Seperti tidak pernah terjadi suatu apapun.
Minggu, 04 Juli 2010
Semua Halal
Madrasah Annur adalah satu diantara sekian madrasah yang berada di desa Kadiwungu. Manfaat keberadaannya sangat dirasakan oleh penduduk setempat, karena anak-anak mereka dapat menimba ilmu agama dari Madrasah tersebut. Alumni-alumninya mayoritas menjadi tokoh agama di daerah tempat tinggalnya masing-masing.
Pada suatu pagi yang indah, seperti biasa setiap murid mulai berdatangan di madrasahnya. Diantara mereka ada yang menggunakan sepeda, naik becak, dan lain-lain. Tetapi sebagian besar mereka lebih memilih jalan kaki karena selain tidak membutuhkan biaya juga bisa berolahraga di pagi hari.
“Krrriiiiiiiing”…..bel pertanda pelajaran akan dimulai. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Ustad Arif yang bertugas mengisi pelajaran di kelas 6 juga langsung masuk. Ustad muda itu pun memulai pelajaran dengan,”Allah SWT menghalalkan binatang apa saja yang ada di laut, baik itu paus, kuda laut, ataupun anjing laut. Jadi semuanya halal dan boleh dimakan kalau kalian mau”.
Tiba-tiba seorang murid bertanya,”Lalu bagaimana kalau bajak laut, apa boleh dimakan juga Ustad ??”. Kontan saja Ustad langsung mengernyitkan keningnya sementara murid-murid yang lain tertawa.
Pada suatu pagi yang indah, seperti biasa setiap murid mulai berdatangan di madrasahnya. Diantara mereka ada yang menggunakan sepeda, naik becak, dan lain-lain. Tetapi sebagian besar mereka lebih memilih jalan kaki karena selain tidak membutuhkan biaya juga bisa berolahraga di pagi hari.
“Krrriiiiiiiing”…..bel pertanda pelajaran akan dimulai. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Ustad Arif yang bertugas mengisi pelajaran di kelas 6 juga langsung masuk. Ustad muda itu pun memulai pelajaran dengan,”Allah SWT menghalalkan binatang apa saja yang ada di laut, baik itu paus, kuda laut, ataupun anjing laut. Jadi semuanya halal dan boleh dimakan kalau kalian mau”.
Tiba-tiba seorang murid bertanya,”Lalu bagaimana kalau bajak laut, apa boleh dimakan juga Ustad ??”. Kontan saja Ustad langsung mengernyitkan keningnya sementara murid-murid yang lain tertawa.
Syarifah dan lelaki Majusi
Tersebutlah seorang lelaki alawi (keturunan Rasulullah SAW) dan istrinya juga seorang alawiyah. Mereka dinugerahi beberapa putri. Hidup mereka sangat bahagia.
Sayang, sang suami tidak berumur panjang. Dia meninggal dunia ketika anak-anaknya belum beranjak dewasa. Sayangnya lagi, sang istri tidak pintar mengelola kekayaan suaminya sehingga mereka pun jatuh miskin.
Maka pergilah perempuan itu beserta dengan anak-anaknya ke desa lain karena takut serangan musuh. Sesampai di desa yang dituju, dia tempatkan putri-putrinya di sebuah masjid yang sudah tidak terpakai, ia pun pergi mencari makanan bagi mereka.
Di tengah jalan ia bertemu dengan 2 kerumunan orang. Satu kerumunan di bawah pimpinan lelaki muslim. Seorang kepala suku, dan satu kerumunan lagi di pimpinan oleh lelaki Majusi. Dia penjamin di desa tersebut.
Perempuan itu mendekati kepala suku yang muslim. Dia menjelaskan keadaan dirinya,”Aku adalah seorang perempuan alawiyah (Syarifah). Aku memiliki anak-anak perempuan yatim. Mereka aku tempatkan di dalam masjid kosong yang sudah tidak terpakai. Aku ingin member mereka makan malam” kata syarifah.
Kepala suku memandang tidak percaya,”Coba berikan aku bukti bahwa kamu wanita syarifah !”
“Aku ini perempuan asing dari jauh. Tak seorang pun megenaliku di desa ini” katanya
Kepala suku berpaling, tak menghiraukannya lagi. Perempuan itu mundur, hatinya retak. Dia beralih ke lelaki Majusi. Dia bertutur seperti tadi. Diceritakannya pula apa yang terjadi antara dirinya dan kepala suku.
Lelaki Majusi itu bangkit, dan menyuruh seorang istrinya mendatangi masjid tempat dimana anak-anak syarifah ditempatkan. Wanita itu membawa mereka ke rumah suaminya, diberi makanan yang enak dan baju yang layak.
Malam harinya kepala suku bermimpi seakakn kiamat telah tiba. Dia telah mencincang bendera di atas kepala Rasulullah SAW. Tahu-tahu dia melihat istana dari zamrud yang hijau, yang balkonnya bertatahkan permata dan mutiara. Qubahnya juga terbuat dari mutira dan marjan. Lelaki itu bertanya,”Milik siapa ini Ya Rasulullah ??”
“Milik lelaki muslim bertauhid”
“Saya lelaki muslim bertauhid”
“Mana buktinya ??” Tanya Rasulullah
Lelaki itu bingung. Beliau menyambung,”Tatkala datang pada mu seorang perempuan syarifah, kamu bilang,”mana buktinya kamu muslim alawiyah ?”. begitu juga sekarang. Kamu harus menunjukkan bukti kamu muslim bertauhid”
Lelaki itu terbangun. Sedih sekali. Ia meyesali telah mengacuhkan perempuan miskin, dan menolak memberi sesuatu padanya. Dia bangkit dari tidurnya dan mencari perempuan itu di seantero desa. Seseorang memberi tahu bahwa wanita itu berada di rumah si Majusi. Kepala suku mendatangi rumah itu. Kepada tuan rumah ia berkata,”Saya ingin menjemput wanita syarifah beserta putri-putrinya”.
“Tidak bisa. Aku telah mencicipi barokah mereka”
“Anda saya kasih seribu dinar asal anda mau menyerahkan mereka”
“Tidak bisa”
“Harus, tidak bisa tidak” kata kepala suku itu
“yang anda inginkan itu, aku lebih berhak menerimanya. Istana yang anda lihat dalam mimpi anda adalah istana yang diciptakan untukku karena aku telah menjadi muslim. Demi Allah, tadi malam, sebelum tidur, aku bersama dengan keluargaku telah masuk islam di hadapan Syarifah. Aku telah melihat dalam mimpiku apa yang anda lihat dalam mimpi anda. Rasulullah SAW telah bersabda padaku,”Perempuan syarifah dan anak-anaknya bersamamu ya ?”
“benar, Ya Rasulullah”
“Istana ini milikmu dan keluargamu. Engkau dan keluargamu adalah penghuni surga. Allah menciptakanmu sebagai mukmin pada zaman azal”
Kepala suku terpaksa pulang dengan tangan kosong dan perasaan menyesal.
Sayang, sang suami tidak berumur panjang. Dia meninggal dunia ketika anak-anaknya belum beranjak dewasa. Sayangnya lagi, sang istri tidak pintar mengelola kekayaan suaminya sehingga mereka pun jatuh miskin.
Maka pergilah perempuan itu beserta dengan anak-anaknya ke desa lain karena takut serangan musuh. Sesampai di desa yang dituju, dia tempatkan putri-putrinya di sebuah masjid yang sudah tidak terpakai, ia pun pergi mencari makanan bagi mereka.
Di tengah jalan ia bertemu dengan 2 kerumunan orang. Satu kerumunan di bawah pimpinan lelaki muslim. Seorang kepala suku, dan satu kerumunan lagi di pimpinan oleh lelaki Majusi. Dia penjamin di desa tersebut.
Perempuan itu mendekati kepala suku yang muslim. Dia menjelaskan keadaan dirinya,”Aku adalah seorang perempuan alawiyah (Syarifah). Aku memiliki anak-anak perempuan yatim. Mereka aku tempatkan di dalam masjid kosong yang sudah tidak terpakai. Aku ingin member mereka makan malam” kata syarifah.
Kepala suku memandang tidak percaya,”Coba berikan aku bukti bahwa kamu wanita syarifah !”
“Aku ini perempuan asing dari jauh. Tak seorang pun megenaliku di desa ini” katanya
Kepala suku berpaling, tak menghiraukannya lagi. Perempuan itu mundur, hatinya retak. Dia beralih ke lelaki Majusi. Dia bertutur seperti tadi. Diceritakannya pula apa yang terjadi antara dirinya dan kepala suku.
Lelaki Majusi itu bangkit, dan menyuruh seorang istrinya mendatangi masjid tempat dimana anak-anak syarifah ditempatkan. Wanita itu membawa mereka ke rumah suaminya, diberi makanan yang enak dan baju yang layak.
Malam harinya kepala suku bermimpi seakakn kiamat telah tiba. Dia telah mencincang bendera di atas kepala Rasulullah SAW. Tahu-tahu dia melihat istana dari zamrud yang hijau, yang balkonnya bertatahkan permata dan mutiara. Qubahnya juga terbuat dari mutira dan marjan. Lelaki itu bertanya,”Milik siapa ini Ya Rasulullah ??”
“Milik lelaki muslim bertauhid”
“Saya lelaki muslim bertauhid”
“Mana buktinya ??” Tanya Rasulullah
Lelaki itu bingung. Beliau menyambung,”Tatkala datang pada mu seorang perempuan syarifah, kamu bilang,”mana buktinya kamu muslim alawiyah ?”. begitu juga sekarang. Kamu harus menunjukkan bukti kamu muslim bertauhid”
Lelaki itu terbangun. Sedih sekali. Ia meyesali telah mengacuhkan perempuan miskin, dan menolak memberi sesuatu padanya. Dia bangkit dari tidurnya dan mencari perempuan itu di seantero desa. Seseorang memberi tahu bahwa wanita itu berada di rumah si Majusi. Kepala suku mendatangi rumah itu. Kepada tuan rumah ia berkata,”Saya ingin menjemput wanita syarifah beserta putri-putrinya”.
“Tidak bisa. Aku telah mencicipi barokah mereka”
“Anda saya kasih seribu dinar asal anda mau menyerahkan mereka”
“Tidak bisa”
“Harus, tidak bisa tidak” kata kepala suku itu
“yang anda inginkan itu, aku lebih berhak menerimanya. Istana yang anda lihat dalam mimpi anda adalah istana yang diciptakan untukku karena aku telah menjadi muslim. Demi Allah, tadi malam, sebelum tidur, aku bersama dengan keluargaku telah masuk islam di hadapan Syarifah. Aku telah melihat dalam mimpiku apa yang anda lihat dalam mimpi anda. Rasulullah SAW telah bersabda padaku,”Perempuan syarifah dan anak-anaknya bersamamu ya ?”
“benar, Ya Rasulullah”
“Istana ini milikmu dan keluargamu. Engkau dan keluargamu adalah penghuni surga. Allah menciptakanmu sebagai mukmin pada zaman azal”
Kepala suku terpaksa pulang dengan tangan kosong dan perasaan menyesal.
Pencuri Dicuri
Suatu hari, seorang pencuri masuk ke dalam rumah seorang laki-laki miskin. Sesampainya di dalam ia menyadari bahwa tidak ada suatu barang berharga pun yang berhasil ia temukan di rumah itu kecuali sebuah gentong yang berisi beras di bawah tempat tidur. Ia berpikir daripada tidak mendapatkan apa-apa , maka diputuskan untuk mengambilnya, tetapi ia bingung bagaimana cara membawanya.
Akhirnya ia mendapat ide ketika si pencuri menyadari bahwa jaket yang dibawanya dapat digunakan. Lalu ia melepasnya dan menaruhnya di lantai.
Suami istri yang empunya rumah sedang tertidur nyenyak. Tetapi tak berselang lama terbangun dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh si pencuri.
Ketika pencuri itu sedang sibuk mengambil gentong beras, tuan rumah mengambil jaket si pencuri dan meyembunyikannya.
Begitu sang pencuri berhasil gentong itu dari bawah tempat tidur, ia tidak dapat mengambil jaketnya yang akan digunakan untuk membawa beras itu.
Pada saat bersamaan, istri tuan rumah terbangun dan berkata,”Saya mendengar suara aneh, mungkin ada pencuri”
Sang suami berkata,”Saya juga terbagun tadi, tapi tidak ada apa-apa. Tidur saja lagi”
Sang pencuri agak heran mendengar perbincangan suami istri ini. Ia menggumama,”Pasti ada pencuri disini. Karena ada yang mencuri jaketku”
Akhirnya ia mendapat ide ketika si pencuri menyadari bahwa jaket yang dibawanya dapat digunakan. Lalu ia melepasnya dan menaruhnya di lantai.
Suami istri yang empunya rumah sedang tertidur nyenyak. Tetapi tak berselang lama terbangun dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh si pencuri.
Ketika pencuri itu sedang sibuk mengambil gentong beras, tuan rumah mengambil jaket si pencuri dan meyembunyikannya.
Begitu sang pencuri berhasil gentong itu dari bawah tempat tidur, ia tidak dapat mengambil jaketnya yang akan digunakan untuk membawa beras itu.
Pada saat bersamaan, istri tuan rumah terbangun dan berkata,”Saya mendengar suara aneh, mungkin ada pencuri”
Sang suami berkata,”Saya juga terbagun tadi, tapi tidak ada apa-apa. Tidur saja lagi”
Sang pencuri agak heran mendengar perbincangan suami istri ini. Ia menggumama,”Pasti ada pencuri disini. Karena ada yang mencuri jaketku”
Ibu
Ibu, Umi, Mami, Itulah beberapa sebutan yang sering kita panggil untuk wanita yang sangat berjasa ini. Jasanya tidak dapat ditukar maupun dibeli dengan harga berapa pun juga. Allah SWT, mengirim kita ke bumi untuk mengemban suatu kewajiban atas perantara seorang ibu. Sebelum lahir, kita telah berada di suatu kantong di dalam perut yang disebut rahim selama 9 bulan. Selama itu, Ibu selalu sabar memikul sesuatu di perutnya. Kata seorang Ibu,” rasanya kadang melelahkan, tapi sangat menyenangkan”. Ibu berhati – hati dalam tiap gerakannya, karena ada suatu titipan nyawa yang terindah dan berharga yang sedang dijaganya. Susah ketika tidur, berjalan, makan, dll. Kadang terasa sedikit sakit, ketika tangan dan kaki usil mu menendang perut Ibu di dalam rahim. Tapi Ibu hanya mengusap perutnya sambil tersenyum bahagia.
Setelah 9 bulan, kamu pun lahir di dunia. Ibu lagi – lagi menjadi peran utama dalam hal ini. Mengasuh seorang bayi mungil yang sangat lucu. Sang Ibu pun merasa lengkaplah sudah hidupnya, karena Allah telah mengutus seorang bayi yang apabila telah besar akan menjadi seseorang yang dimata Allah dan orang di sekitarnya adalah seseorang yang beriman dan bermanfaat. Itlah harapannya.
Tiap malam Ibu dan Ayah akan mendengar suara tangisanmu hingga membangunkan mereka. Tapi bukannya marah dan kesal, salah satu diantara mereka mengangkat dan memelukmu hangat. Berusaha melakukan yang terbaik untukmu.
Ketika pagi menjelang, Ibu kerepotan mengurus rutinitas paginya karena banyak yang harus dilakukan. Menjagamu, membereskan rumah, dan mengurusi keperluan ayahmu. Tapi tidak ada rasa lelah diwajahnya setelah melihat tingkahmu dan senyum di bibir kecilmu. Semua itu terbayarkan dengan semua itu.
Ketika kamu sakit, ornag tuamu memberikan yang terbaik. Waktu mereka yang seharusnya bekerja dan melakukan hal yang lain, dikorbankan demi untuk menjagamu. Sakit yang kamu derita membuatmu menangis yang tak kunjung berhenti. Yang ada dipikiran mereka,” lebih baik kami yang sakit nak, daripada melihatmu menangis menahan sakit”.
Orang tuamu khususnya Ibu terjaga pada malam hari. Merelakan waktu tidurnya untuk menggendongmu yang sedang sakit dan membutuhkan hangatnya pelukan Ibu daripada hangatnya selimut yang ada di tempat tidurmu. Setelah beberapa hari, kamu pun sembuh. Ini adalah doa yang dipanjatkan orang tuamu ketika kamu sakit. Doa itu menjadi terwujud.
Umurmu sekarang beranjak 2 tahun. Kini kamu telah bisa berjalan. Ibumu sangat kewalahan ketika mengikuti gerakanmu yang lincah. Serta mengawasi tanganmu ketika kamu memegang sesuatu yang asing agar tidak masuk ke mulutmu. Kamu telah bisa mengucapkan beberapa yang kurang jelas, hingga membuat ibu tertawa ketika kata – kata itu terucap dari bibirmu. Perlahan – lahan, sesuatu telah mulai melengkapi fisikmu hingga akhirnya kamu dapat berjalan, berkaya dengan baik dan benar. Berkatnya kamu tumbuh menjadi manusia yang dapat menentukan yang baik dan yang buruk, yang patut dan tidak patut, yang boleh dan tidak boleh.
Sekarang kamu beranjak remaja, tidak ada lagi orang tuamu yang selalu mengikuti dan disampingmu. Mereka memberi kepercayaan kepadamu. Mereka yakin akan kamu yang menggunakan kepercayaan mereka dengan baik.
Tapi kamu terpengaruh oleh lingkungan sekitarmu. Kamu melanggarnya, membangkangnya, dan berkata “ah” ketika mereka meminta bantuanmu. Sungguh hancur hati mereka melihatmu seperti ini.
Mereka mendatangimu, melempari sebauh pertanyaan, apakah benar yang kamu lakukan ??.... mereka memberimu pengertian hingga kamu mengerti. Dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
Ketika telah lulus sekolah, kamu mencari sebuah pekerjaan yang layak untukmu. Setelah mendapatkannya, maka orang tuamu begitu bangga padamu.
Pernahkah kamu berpikir apa yang membuat hati mereka senang ??? yaitu ketika melihatmu bahagia, tersenyum, dan menunjukkan bahwa kamu bisa. Tidak ada yang dapat membayar pengorbanan mereka dengan nyawamu sekalipun. Ayo kita beri mereka kebahagiaan selagi kita bisa. I Love You All !!!1
Setelah 9 bulan, kamu pun lahir di dunia. Ibu lagi – lagi menjadi peran utama dalam hal ini. Mengasuh seorang bayi mungil yang sangat lucu. Sang Ibu pun merasa lengkaplah sudah hidupnya, karena Allah telah mengutus seorang bayi yang apabila telah besar akan menjadi seseorang yang dimata Allah dan orang di sekitarnya adalah seseorang yang beriman dan bermanfaat. Itlah harapannya.
Tiap malam Ibu dan Ayah akan mendengar suara tangisanmu hingga membangunkan mereka. Tapi bukannya marah dan kesal, salah satu diantara mereka mengangkat dan memelukmu hangat. Berusaha melakukan yang terbaik untukmu.
Ketika pagi menjelang, Ibu kerepotan mengurus rutinitas paginya karena banyak yang harus dilakukan. Menjagamu, membereskan rumah, dan mengurusi keperluan ayahmu. Tapi tidak ada rasa lelah diwajahnya setelah melihat tingkahmu dan senyum di bibir kecilmu. Semua itu terbayarkan dengan semua itu.
Ketika kamu sakit, ornag tuamu memberikan yang terbaik. Waktu mereka yang seharusnya bekerja dan melakukan hal yang lain, dikorbankan demi untuk menjagamu. Sakit yang kamu derita membuatmu menangis yang tak kunjung berhenti. Yang ada dipikiran mereka,” lebih baik kami yang sakit nak, daripada melihatmu menangis menahan sakit”.
Orang tuamu khususnya Ibu terjaga pada malam hari. Merelakan waktu tidurnya untuk menggendongmu yang sedang sakit dan membutuhkan hangatnya pelukan Ibu daripada hangatnya selimut yang ada di tempat tidurmu. Setelah beberapa hari, kamu pun sembuh. Ini adalah doa yang dipanjatkan orang tuamu ketika kamu sakit. Doa itu menjadi terwujud.
Umurmu sekarang beranjak 2 tahun. Kini kamu telah bisa berjalan. Ibumu sangat kewalahan ketika mengikuti gerakanmu yang lincah. Serta mengawasi tanganmu ketika kamu memegang sesuatu yang asing agar tidak masuk ke mulutmu. Kamu telah bisa mengucapkan beberapa yang kurang jelas, hingga membuat ibu tertawa ketika kata – kata itu terucap dari bibirmu. Perlahan – lahan, sesuatu telah mulai melengkapi fisikmu hingga akhirnya kamu dapat berjalan, berkaya dengan baik dan benar. Berkatnya kamu tumbuh menjadi manusia yang dapat menentukan yang baik dan yang buruk, yang patut dan tidak patut, yang boleh dan tidak boleh.
Sekarang kamu beranjak remaja, tidak ada lagi orang tuamu yang selalu mengikuti dan disampingmu. Mereka memberi kepercayaan kepadamu. Mereka yakin akan kamu yang menggunakan kepercayaan mereka dengan baik.
Tapi kamu terpengaruh oleh lingkungan sekitarmu. Kamu melanggarnya, membangkangnya, dan berkata “ah” ketika mereka meminta bantuanmu. Sungguh hancur hati mereka melihatmu seperti ini.
Mereka mendatangimu, melempari sebauh pertanyaan, apakah benar yang kamu lakukan ??.... mereka memberimu pengertian hingga kamu mengerti. Dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
Ketika telah lulus sekolah, kamu mencari sebuah pekerjaan yang layak untukmu. Setelah mendapatkannya, maka orang tuamu begitu bangga padamu.
Pernahkah kamu berpikir apa yang membuat hati mereka senang ??? yaitu ketika melihatmu bahagia, tersenyum, dan menunjukkan bahwa kamu bisa. Tidak ada yang dapat membayar pengorbanan mereka dengan nyawamu sekalipun. Ayo kita beri mereka kebahagiaan selagi kita bisa. I Love You All !!!1
Badui Dermawan dan BAdui Kikir
Suatu kali aku bepergian meninggalkan keluargaku. Tujuanku bersilahturahmi ke rumah saudaraku,” ujar Haitsam bin Adiy. “Aku pergi sendiri, hanya ditemani dengan unta yang kutunggangi.”
Haitsam adalah seorang penutur cerita, sekaligus ahli sejarah tentang orang-orang zaman dahulu. Banyak karya tulis yang telah dihasilkannya. Inilah penuturannya mengenai kisahnya sendiri.
Di suatu tempat tiba-tiba unta yang kubawa merepotkanku. Dia berjalan menjauhiku. Aku segera mengejarnya. Dia terus berlari sehingga aku harus berlari juga di belakangnya. Akhirnya aku berhasil menangkapnya.
Kala itu hari sudah sangat senja. Tiba-tiba aku melihat sebuah kamah milik seorang badui yang didirikan sebagai tempat tinggal. Aku pun mencoba mendekati kemah itu. Seorang perempuan badui muncul.
“Siapa kamu ?” tanyanya.
“Tamu” jawabku.
“Apa yang diperbuat seorang tamu di tempat tinggal kami ?”
Ia bangkit, mengambil gandum lalu mengolahnya menjadi roti. Kamudian dia duduk dan memakan roti tersebut. Aku dibiarkannya kelaparan tanpa sedikit makanan pun. Tidak berapa lama kemudian, datanglah suaminya sembari menenteng secawan susu.
“Assalamualikum” ucapnya.
“Waalaikumsalam”
“Siapa lelaki ini ?” tanyanya kepada istrinya.
“Tamu” jawab istrinya
“Marhaban hayyakallah,” ujarnya hangat kepadaku, penuh keramahan.
Ia pun masuk ke dalam kemah, menuangkan susu ke dalam gelas dan keluar menghampiriku.
“Minumlah,” katanya sembari menyodorkan susu yang dibawanya. Aku pun meminumnya dengan lahap.
“Aku tidak melihat kamu makan apa-apa. Dan istriku juga tidak memberimu apa-apa,” katanya.
“Betul, demi Allah. Aku tidak makan apa-apa dan dia tidak memberiku makan,” jawabku.
Lelaki itu masuk kembali ke dalam kemah dan memarahi istrinya,”Celaka kamu ! kamu makan sendiri, sedangkan tamu kita tidak kamu beri makan apa-apa,” omelnya.
“Apa yang harus kuperbuat padanya ? memberikan makanan jatahku ?” tukas istrinya.
Terjadilah perang mulut hebat antar keduanya. Lelaki itu memukul wajah istrinya kemudian membawa golok. Ia mendekati untaku dan menyembelihnya.
“Hei, apa yang kau perbuat dengan untaku ?” Tanyaku
“Tidak, demi Allah. Aku tidak boleh membiarkan tamuku tidur dalam keadaan lapar,” jawabnya.
Sesudah itu, dia mengumpulkan kayu dan menyalakan api. Dia memasak daging unta itu lalu menyuguhkannya padaku. Kami pun makan bersama.
Esok paginya ia pergi meninggalkanku. Aku pun bingung. Tak tahu apa yang harus ku perbuat.
Si badui ini kembali ke kemah ketika hari beranjak siang. Sambil menunutun seekor unta yang sangat bagus, ia pun berkata,”Ini pengganti untamu tadi malam” ujarnya.
Selain mengganti untaku, ia pun memberiku bekal daging untaku yang disembelihnya tadi malam, ditambah lagi dengan makanan yang ia bawa siang itu.
Aku pun kemudian berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Aku terus berjalan, mengendarai unta baruku.
Ketika malam tiba, aku merasa perlu istirahat. Aku harus menemukan tempat untuk tidur. Kebetulan aku melihat sebuah kemah. Kaki kulangkahkan ke sana.
“Assalamualaikum” ucapku.
“Waalaikumsalam” terdengar suara perempuan dari dalam kemah.
“Anda siapa ?” tanyanya
“Tamu”
“Hayyakallah wa’afak, mudah-mudahan Allah memanjangkan umurmu dan menganugerahimu keselamatan dan kesehatan” katanya dengan penuh hangat
Lalu ia turun mengambil gandum dari tempatnya. Dia mengolahnya menjadi roti dan mencampurkannya dengan susu dan keju. Kemudian disuguhkannya kepadaku.
“Silahkan makan. Maaf hanya ini yang dapat saya suguhkan” ujarnya
Tak lama kemudian suaminya datang dengan wajah keruh.
“Assalamualaikum” ucapnya
“Waalaikumsalam”
“Kamu siapa ?” Tanya suaminya
“Tamu” jawabku
“Ah, Tamu !! Apa yang dilakukan tanu dirumahku ?”. lalu ia masuk ke kemah.
“Mana makananku ?”
“Aku berikan pada tamu” jawab istrinya
“Hah !! kamu berikannya padanya !!”
Terjadilah perang mulut antar keduanya, si lelaki mengambil tongkat, dan memukulkannya ke kepala istrinya.
Melihat kejadian ini, aku pun tertawa.
“Apanya yang lucu ?? Apa yang kamu tertawakan ??” tanyanya
“Tidak, hanya cerita lucu”
“Demi Allah, kamu harus menceritakannya kepadaku” jawab lelaki itu.
Aku pun bercerita mengenai kajadian sebelumnya dengan pasangan badui yang bertolak belakang dengan keluarganya.
“Oh ya” ucapnya heran. Istriku adalah saudara dari lelaki yang engkau temui tadi. Sedangkan istrinya adalah saudaraku”
*GuuuuuuuuuuuuuuBbraaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk !!!!*
Haitsam adalah seorang penutur cerita, sekaligus ahli sejarah tentang orang-orang zaman dahulu. Banyak karya tulis yang telah dihasilkannya. Inilah penuturannya mengenai kisahnya sendiri.
Di suatu tempat tiba-tiba unta yang kubawa merepotkanku. Dia berjalan menjauhiku. Aku segera mengejarnya. Dia terus berlari sehingga aku harus berlari juga di belakangnya. Akhirnya aku berhasil menangkapnya.
Kala itu hari sudah sangat senja. Tiba-tiba aku melihat sebuah kamah milik seorang badui yang didirikan sebagai tempat tinggal. Aku pun mencoba mendekati kemah itu. Seorang perempuan badui muncul.
“Siapa kamu ?” tanyanya.
“Tamu” jawabku.
“Apa yang diperbuat seorang tamu di tempat tinggal kami ?”
Ia bangkit, mengambil gandum lalu mengolahnya menjadi roti. Kamudian dia duduk dan memakan roti tersebut. Aku dibiarkannya kelaparan tanpa sedikit makanan pun. Tidak berapa lama kemudian, datanglah suaminya sembari menenteng secawan susu.
“Assalamualikum” ucapnya.
“Waalaikumsalam”
“Siapa lelaki ini ?” tanyanya kepada istrinya.
“Tamu” jawab istrinya
“Marhaban hayyakallah,” ujarnya hangat kepadaku, penuh keramahan.
Ia pun masuk ke dalam kemah, menuangkan susu ke dalam gelas dan keluar menghampiriku.
“Minumlah,” katanya sembari menyodorkan susu yang dibawanya. Aku pun meminumnya dengan lahap.
“Aku tidak melihat kamu makan apa-apa. Dan istriku juga tidak memberimu apa-apa,” katanya.
“Betul, demi Allah. Aku tidak makan apa-apa dan dia tidak memberiku makan,” jawabku.
Lelaki itu masuk kembali ke dalam kemah dan memarahi istrinya,”Celaka kamu ! kamu makan sendiri, sedangkan tamu kita tidak kamu beri makan apa-apa,” omelnya.
“Apa yang harus kuperbuat padanya ? memberikan makanan jatahku ?” tukas istrinya.
Terjadilah perang mulut hebat antar keduanya. Lelaki itu memukul wajah istrinya kemudian membawa golok. Ia mendekati untaku dan menyembelihnya.
“Hei, apa yang kau perbuat dengan untaku ?” Tanyaku
“Tidak, demi Allah. Aku tidak boleh membiarkan tamuku tidur dalam keadaan lapar,” jawabnya.
Sesudah itu, dia mengumpulkan kayu dan menyalakan api. Dia memasak daging unta itu lalu menyuguhkannya padaku. Kami pun makan bersama.
Esok paginya ia pergi meninggalkanku. Aku pun bingung. Tak tahu apa yang harus ku perbuat.
Si badui ini kembali ke kemah ketika hari beranjak siang. Sambil menunutun seekor unta yang sangat bagus, ia pun berkata,”Ini pengganti untamu tadi malam” ujarnya.
Selain mengganti untaku, ia pun memberiku bekal daging untaku yang disembelihnya tadi malam, ditambah lagi dengan makanan yang ia bawa siang itu.
Aku pun kemudian berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Aku terus berjalan, mengendarai unta baruku.
Ketika malam tiba, aku merasa perlu istirahat. Aku harus menemukan tempat untuk tidur. Kebetulan aku melihat sebuah kemah. Kaki kulangkahkan ke sana.
“Assalamualaikum” ucapku.
“Waalaikumsalam” terdengar suara perempuan dari dalam kemah.
“Anda siapa ?” tanyanya
“Tamu”
“Hayyakallah wa’afak, mudah-mudahan Allah memanjangkan umurmu dan menganugerahimu keselamatan dan kesehatan” katanya dengan penuh hangat
Lalu ia turun mengambil gandum dari tempatnya. Dia mengolahnya menjadi roti dan mencampurkannya dengan susu dan keju. Kemudian disuguhkannya kepadaku.
“Silahkan makan. Maaf hanya ini yang dapat saya suguhkan” ujarnya
Tak lama kemudian suaminya datang dengan wajah keruh.
“Assalamualaikum” ucapnya
“Waalaikumsalam”
“Kamu siapa ?” Tanya suaminya
“Tamu” jawabku
“Ah, Tamu !! Apa yang dilakukan tanu dirumahku ?”. lalu ia masuk ke kemah.
“Mana makananku ?”
“Aku berikan pada tamu” jawab istrinya
“Hah !! kamu berikannya padanya !!”
Terjadilah perang mulut antar keduanya, si lelaki mengambil tongkat, dan memukulkannya ke kepala istrinya.
Melihat kejadian ini, aku pun tertawa.
“Apanya yang lucu ?? Apa yang kamu tertawakan ??” tanyanya
“Tidak, hanya cerita lucu”
“Demi Allah, kamu harus menceritakannya kepadaku” jawab lelaki itu.
Aku pun bercerita mengenai kajadian sebelumnya dengan pasangan badui yang bertolak belakang dengan keluarganya.
“Oh ya” ucapnya heran. Istriku adalah saudara dari lelaki yang engkau temui tadi. Sedangkan istrinya adalah saudaraku”
*GuuuuuuuuuuuuuuBbraaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk !!!!*
Pernikahan Ahli Surga
Alkisah di suatu negri, terjadilah pernikahan yang menggemparkan. Seorang yang buruk rupa dengan wanita yang cantik jelita, hampir seluruh penduduk negri mencemooh, seolah-olah tidak menyetujui pernikahan tersebut.
Selang berapa lama, sampailah hari pernikahan yang telah ditentukan, kedua insane yang sedang berbahagia tengah duduk di atas kursi pelaminan diantara para undangan., yang tampaknya agak aneh melihat pemandangan kontras tersebut.
Tiba-tiba muncullah seorang diantara para undangan, ia mendekati kedua mempelai sambil mengucapkan selamat atas pernikahan keduanya. Kemudian dengan suara lantang ia mengatakan kepada para undangan yang hadir.
“Wahai undangan, ketahuilah, bahwa kedua mempelai adalah ahli surga”
Mendengar hal ini, antara perasaan bahagia dan heran sang pengantin pria bertanya,”Bagaimana anda bisa mengetahui hal tersebut ?”
Dengan penuh keyakinan laki-laki itu menjawab,”Pengantin yang pria bersyukur mendapat istri yang cantik jelita, sedangkan pengantin wanita bersabar karena mendapat suami yang buruk rupanya. Orang yang bersyukur dan bersabar tempatnya hanya di surga.
Selang berapa lama, sampailah hari pernikahan yang telah ditentukan, kedua insane yang sedang berbahagia tengah duduk di atas kursi pelaminan diantara para undangan., yang tampaknya agak aneh melihat pemandangan kontras tersebut.
Tiba-tiba muncullah seorang diantara para undangan, ia mendekati kedua mempelai sambil mengucapkan selamat atas pernikahan keduanya. Kemudian dengan suara lantang ia mengatakan kepada para undangan yang hadir.
“Wahai undangan, ketahuilah, bahwa kedua mempelai adalah ahli surga”
Mendengar hal ini, antara perasaan bahagia dan heran sang pengantin pria bertanya,”Bagaimana anda bisa mengetahui hal tersebut ?”
Dengan penuh keyakinan laki-laki itu menjawab,”Pengantin yang pria bersyukur mendapat istri yang cantik jelita, sedangkan pengantin wanita bersabar karena mendapat suami yang buruk rupanya. Orang yang bersyukur dan bersabar tempatnya hanya di surga.
Lima Menit menjadi raja
Bahlul, si tolol yang bijaksana. Sering menyembunyikan kecerdasannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang raja pun sangat menghargai bimbingannya.
Suatu hari, Bahlul melihat singgasana raja yang sedang kosong. Bahlul dengan santainya menduduki singgasa tersebut. Padahal, menempati tahta raja termasuk ke dalam kejahatan yang sangat berat dan dapat dihukum mati. Para pengawal segera menangkap, menyeret lalu memukulinya. Bahlul pun berteriak kesakitan.
Teriakan Bahlul terdengar oleh sang raja. Raja pun segera menghampirinya. Bahlul mesih menangis keras ketika sang raja menanyakan sebab keributan. Raja berkata kepada pengawal yang memukul Bahlul,”Jangan pukul dia. Dia ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana raja ??” ia lalu berpaling pada Bahlul.
“sudahlah tak usah menangis. Jangan kuatir. Cepat apus air matamu.”
“bahlul menjawab,”wahai raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menagis. Aku menagis karena kasihan terhadapmu”
“Kau menangisiku ??....mengapa engkau harus menangisiku ??”
“wahai raja, aku hanya duduk di tahtamu sekali tetapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, yang telah menduduki tahta selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau Terima ?? aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang “ kata Bahlul
Suatu hari, Bahlul melihat singgasana raja yang sedang kosong. Bahlul dengan santainya menduduki singgasa tersebut. Padahal, menempati tahta raja termasuk ke dalam kejahatan yang sangat berat dan dapat dihukum mati. Para pengawal segera menangkap, menyeret lalu memukulinya. Bahlul pun berteriak kesakitan.
Teriakan Bahlul terdengar oleh sang raja. Raja pun segera menghampirinya. Bahlul mesih menangis keras ketika sang raja menanyakan sebab keributan. Raja berkata kepada pengawal yang memukul Bahlul,”Jangan pukul dia. Dia ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana raja ??” ia lalu berpaling pada Bahlul.
“sudahlah tak usah menangis. Jangan kuatir. Cepat apus air matamu.”
“bahlul menjawab,”wahai raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menagis. Aku menagis karena kasihan terhadapmu”
“Kau menangisiku ??....mengapa engkau harus menangisiku ??”
“wahai raja, aku hanya duduk di tahtamu sekali tetapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, yang telah menduduki tahta selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau Terima ?? aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang “ kata Bahlul
Langganan:
Komentar (Atom)