Minggu, 04 Juli 2010

Badui Dermawan dan BAdui Kikir

Suatu kali aku bepergian meninggalkan keluargaku. Tujuanku bersilahturahmi ke rumah saudaraku,” ujar Haitsam bin Adiy. “Aku pergi sendiri, hanya ditemani dengan unta yang kutunggangi.”
Haitsam adalah seorang penutur cerita, sekaligus ahli sejarah tentang orang-orang zaman dahulu. Banyak karya tulis yang telah dihasilkannya. Inilah penuturannya mengenai kisahnya sendiri.
Di suatu tempat tiba-tiba unta yang kubawa merepotkanku. Dia berjalan menjauhiku. Aku segera mengejarnya. Dia terus berlari sehingga aku harus berlari juga di belakangnya. Akhirnya aku berhasil menangkapnya.
Kala itu hari sudah sangat senja. Tiba-tiba aku melihat sebuah kamah milik seorang badui yang didirikan sebagai tempat tinggal. Aku pun mencoba mendekati kemah itu. Seorang perempuan badui muncul.
“Siapa kamu ?” tanyanya.
“Tamu” jawabku.
“Apa yang diperbuat seorang tamu di tempat tinggal kami ?”
Ia bangkit, mengambil gandum lalu mengolahnya menjadi roti. Kamudian dia duduk dan memakan roti tersebut. Aku dibiarkannya kelaparan tanpa sedikit makanan pun. Tidak berapa lama kemudian, datanglah suaminya sembari menenteng secawan susu.
“Assalamualikum” ucapnya.
“Waalaikumsalam”
“Siapa lelaki ini ?” tanyanya kepada istrinya.
“Tamu” jawab istrinya
“Marhaban hayyakallah,” ujarnya hangat kepadaku, penuh keramahan.
Ia pun masuk ke dalam kemah, menuangkan susu ke dalam gelas dan keluar menghampiriku.
“Minumlah,” katanya sembari menyodorkan susu yang dibawanya. Aku pun meminumnya dengan lahap.
“Aku tidak melihat kamu makan apa-apa. Dan istriku juga tidak memberimu apa-apa,” katanya.
“Betul, demi Allah. Aku tidak makan apa-apa dan dia tidak memberiku makan,” jawabku.
Lelaki itu masuk kembali ke dalam kemah dan memarahi istrinya,”Celaka kamu ! kamu makan sendiri, sedangkan tamu kita tidak kamu beri makan apa-apa,” omelnya.
“Apa yang harus kuperbuat padanya ? memberikan makanan jatahku ?” tukas istrinya.
Terjadilah perang mulut hebat antar keduanya. Lelaki itu memukul wajah istrinya kemudian membawa golok. Ia mendekati untaku dan menyembelihnya.
“Hei, apa yang kau perbuat dengan untaku ?” Tanyaku
“Tidak, demi Allah. Aku tidak boleh membiarkan tamuku tidur dalam keadaan lapar,” jawabnya.
Sesudah itu, dia mengumpulkan kayu dan menyalakan api. Dia memasak daging unta itu lalu menyuguhkannya padaku. Kami pun makan bersama.
Esok paginya ia pergi meninggalkanku. Aku pun bingung. Tak tahu apa yang harus ku perbuat.
Si badui ini kembali ke kemah ketika hari beranjak siang. Sambil menunutun seekor unta yang sangat bagus, ia pun berkata,”Ini pengganti untamu tadi malam” ujarnya.
Selain mengganti untaku, ia pun memberiku bekal daging untaku yang disembelihnya tadi malam, ditambah lagi dengan makanan yang ia bawa siang itu.
Aku pun kemudian berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Aku terus berjalan, mengendarai unta baruku.
Ketika malam tiba, aku merasa perlu istirahat. Aku harus menemukan tempat untuk tidur. Kebetulan aku melihat sebuah kemah. Kaki kulangkahkan ke sana.
“Assalamualaikum” ucapku.
“Waalaikumsalam” terdengar suara perempuan dari dalam kemah.
“Anda siapa ?” tanyanya
“Tamu”
“Hayyakallah wa’afak, mudah-mudahan Allah memanjangkan umurmu dan menganugerahimu keselamatan dan kesehatan” katanya dengan penuh hangat
Lalu ia turun mengambil gandum dari tempatnya. Dia mengolahnya menjadi roti dan mencampurkannya dengan susu dan keju. Kemudian disuguhkannya kepadaku.
“Silahkan makan. Maaf hanya ini yang dapat saya suguhkan” ujarnya
Tak lama kemudian suaminya datang dengan wajah keruh.
“Assalamualaikum” ucapnya
“Waalaikumsalam”
“Kamu siapa ?” Tanya suaminya
“Tamu” jawabku
“Ah, Tamu !! Apa yang dilakukan tanu dirumahku ?”. lalu ia masuk ke kemah.
“Mana makananku ?”
“Aku berikan pada tamu” jawab istrinya
“Hah !! kamu berikannya padanya !!”
Terjadilah perang mulut antar keduanya, si lelaki mengambil tongkat, dan memukulkannya ke kepala istrinya.
Melihat kejadian ini, aku pun tertawa.
“Apanya yang lucu ?? Apa yang kamu tertawakan ??” tanyanya
“Tidak, hanya cerita lucu”
“Demi Allah, kamu harus menceritakannya kepadaku” jawab lelaki itu.
Aku pun bercerita mengenai kajadian sebelumnya dengan pasangan badui yang bertolak belakang dengan keluarganya.
“Oh ya” ucapnya heran. Istriku adalah saudara dari lelaki yang engkau temui tadi. Sedangkan istrinya adalah saudaraku”
*GuuuuuuuuuuuuuuBbraaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk !!!!*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar