Minggu, 04 Juli 2010

Lima Menit menjadi raja

Bahlul, si tolol yang bijaksana. Sering menyembunyikan kecerdasannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang raja pun sangat menghargai bimbingannya.
Suatu hari, Bahlul melihat singgasana raja yang sedang kosong. Bahlul dengan santainya menduduki singgasa tersebut. Padahal, menempati tahta raja termasuk ke dalam kejahatan yang sangat berat dan dapat dihukum mati. Para pengawal segera menangkap, menyeret lalu memukulinya. Bahlul pun berteriak kesakitan.
Teriakan Bahlul terdengar oleh sang raja. Raja pun segera menghampirinya. Bahlul mesih menangis keras ketika sang raja menanyakan sebab keributan. Raja berkata kepada pengawal yang memukul Bahlul,”Jangan pukul dia. Dia ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana raja ??” ia lalu berpaling pada Bahlul.
“sudahlah tak usah menangis. Jangan kuatir. Cepat apus air matamu.”
“bahlul menjawab,”wahai raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menagis. Aku menagis karena kasihan terhadapmu”
“Kau menangisiku ??....mengapa engkau harus menangisiku ??”
“wahai raja, aku hanya duduk di tahtamu sekali tetapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, yang telah menduduki tahta selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau Terima ?? aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang “ kata Bahlul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar