Minggu, 04 Juli 2010

Ibu

Ibu, Umi, Mami, Itulah beberapa sebutan yang sering kita panggil untuk wanita yang sangat berjasa ini. Jasanya tidak dapat ditukar maupun dibeli dengan harga berapa pun juga. Allah SWT, mengirim kita ke bumi untuk mengemban suatu kewajiban atas perantara seorang ibu. Sebelum lahir, kita telah berada di suatu kantong di dalam perut yang disebut rahim selama 9 bulan. Selama itu, Ibu selalu sabar memikul sesuatu di perutnya. Kata seorang Ibu,” rasanya kadang melelahkan, tapi sangat menyenangkan”. Ibu berhati – hati dalam tiap gerakannya, karena ada suatu titipan nyawa yang terindah dan berharga yang sedang dijaganya. Susah ketika tidur, berjalan, makan, dll. Kadang terasa sedikit sakit, ketika tangan dan kaki usil mu menendang perut Ibu di dalam rahim. Tapi Ibu hanya mengusap perutnya sambil tersenyum bahagia.
Setelah 9 bulan, kamu pun lahir di dunia. Ibu lagi – lagi menjadi peran utama dalam hal ini. Mengasuh seorang bayi mungil yang sangat lucu. Sang Ibu pun merasa lengkaplah sudah hidupnya, karena Allah telah mengutus seorang bayi yang apabila telah besar akan menjadi seseorang yang dimata Allah dan orang di sekitarnya adalah seseorang yang beriman dan bermanfaat. Itlah harapannya.
Tiap malam Ibu dan Ayah akan mendengar suara tangisanmu hingga membangunkan mereka. Tapi bukannya marah dan kesal, salah satu diantara mereka mengangkat dan memelukmu hangat. Berusaha melakukan yang terbaik untukmu.
Ketika pagi menjelang, Ibu kerepotan mengurus rutinitas paginya karena banyak yang harus dilakukan. Menjagamu, membereskan rumah, dan mengurusi keperluan ayahmu. Tapi tidak ada rasa lelah diwajahnya setelah melihat tingkahmu dan senyum di bibir kecilmu. Semua itu terbayarkan dengan semua itu.
Ketika kamu sakit, ornag tuamu memberikan yang terbaik. Waktu mereka yang seharusnya bekerja dan melakukan hal yang lain, dikorbankan demi untuk menjagamu. Sakit yang kamu derita membuatmu menangis yang tak kunjung berhenti. Yang ada dipikiran mereka,” lebih baik kami yang sakit nak, daripada melihatmu menangis menahan sakit”.
Orang tuamu khususnya Ibu terjaga pada malam hari. Merelakan waktu tidurnya untuk menggendongmu yang sedang sakit dan membutuhkan hangatnya pelukan Ibu daripada hangatnya selimut yang ada di tempat tidurmu. Setelah beberapa hari, kamu pun sembuh. Ini adalah doa yang dipanjatkan orang tuamu ketika kamu sakit. Doa itu menjadi terwujud.
Umurmu sekarang beranjak 2 tahun. Kini kamu telah bisa berjalan. Ibumu sangat kewalahan ketika mengikuti gerakanmu yang lincah. Serta mengawasi tanganmu ketika kamu memegang sesuatu yang asing agar tidak masuk ke mulutmu. Kamu telah bisa mengucapkan beberapa yang kurang jelas, hingga membuat ibu tertawa ketika kata – kata itu terucap dari bibirmu. Perlahan – lahan, sesuatu telah mulai melengkapi fisikmu hingga akhirnya kamu dapat berjalan, berkaya dengan baik dan benar. Berkatnya kamu tumbuh menjadi manusia yang dapat menentukan yang baik dan yang buruk, yang patut dan tidak patut, yang boleh dan tidak boleh.
Sekarang kamu beranjak remaja, tidak ada lagi orang tuamu yang selalu mengikuti dan disampingmu. Mereka memberi kepercayaan kepadamu. Mereka yakin akan kamu yang menggunakan kepercayaan mereka dengan baik.
Tapi kamu terpengaruh oleh lingkungan sekitarmu. Kamu melanggarnya, membangkangnya, dan berkata “ah” ketika mereka meminta bantuanmu. Sungguh hancur hati mereka melihatmu seperti ini.
Mereka mendatangimu, melempari sebauh pertanyaan, apakah benar yang kamu lakukan ??.... mereka memberimu pengertian hingga kamu mengerti. Dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
Ketika telah lulus sekolah, kamu mencari sebuah pekerjaan yang layak untukmu. Setelah mendapatkannya, maka orang tuamu begitu bangga padamu.
Pernahkah kamu berpikir apa yang membuat hati mereka senang ??? yaitu ketika melihatmu bahagia, tersenyum, dan menunjukkan bahwa kamu bisa. Tidak ada yang dapat membayar pengorbanan mereka dengan nyawamu sekalipun. Ayo kita beri mereka kebahagiaan selagi kita bisa. I Love You All !!!1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar